Malam begitu dingin, sesekali angin bertiup dengan lembut membawa suasana makin malam makin sunyi. Sesekali masih terdengar sayup-sayup suara klakson kendaraan dari ujung jalan raya,memecahkah keheNingan malam. Jarum jam sudah menunjuk angka 23.30 malam, menandakan sudah sangat larut, namun Seno belum juga dapat memejamkan mata. Berguling dari kiri ke kanan, tengkurap atau terlentang mencari posisi yang nyaman untuk ber-istirahat. Tempat tidur yang empuk dan hangat dirasakan begitu dingin oleh Seno. Tatapan mata yang kosong Seno lemparkan ke sekumpulan ikan yang sedang berenang di akuarium kecil di sudut kamar. “ ikan nya juga belum tidur “ guman Seno dalam hati sambil tersenyum. Puas melihat ikan-ikan peliharaan nya, Seno melemparkan pandangan ke langit-langit kamar yang sudah usang dengan warna cat putih yang telah berubah menjadi kuNing. Berkali-kali hembusan nafas panjang Seno keluar dari hidung, menandakan sedang ada yang menjadi beban dalam pikiran. Masih ter-bayang-bayang dengan jelas di pelupuk mata Seno sebuah pesan yang tadi siang diterimanya dari seseorang yang dahulu dia kenal. Sebuah pesan bahagia, sebuah pesan undangan pernikahan.
Ning, sebut saja begitu nama dari gadis pemberi pesan tersebut. Gadis yang dulu sempat dekat dengan Seno. Gadis yang dulu selalu hadir disetiap relung-relung kesunyian Seno. Ya, Ning datang disaat Seno membutuhkan teman, disaat Seno terpuruk, disaat Seno menjalani masa-masa sulit awal Seno bekerja. Awalnya hubungan Seno dan Ning berawal dari media sosial yang sedang populer saat itu. Mereka berkenalan dan saling berbagi cerita melalui media online di internet. Ning yang saat itu sedang menempuh pendidikan tinggi di salah satu kota di pulau jawa senantiasa online di internet untuk menyelesaikan tugas-tugas yang diberikan oleh kampus tempat dimana dia kuliah. Dari yang sekedar basa-basi obrolan ringan tentang aktifitas sehari-hari berlanjut kepada masalah pribadi yang dihadapi Ning. Masalah pribadi dikampus bahkan kadang masalah pribadi di keluarganya. Seno pun menanggapi setiap cerita serta keluh kesah Ning dengan baik. Seno mendengarkan dengan baik cerita dari Ning.
Seiring berjalan nya waktu,hubungan pun berlanjut. Seno dan Ning pun saling bertukar nomer handphone. Hubungan diantara mereka pun makin dekat bukan hanya sekedar chatting melalui internet, namun juga sesekali mereka saling bertegur sapa melalui pesan singkat dalam sms. Dari sekedar mengingatkan makan sampai menggingatkan untuk tidur. Mereka terus berhubungan meskipun terpisah jauh jaraknya serta belum pernah bertemu sekalipun. Hubungan pun semakin intens dari sekedar chatting dan sms-an, mereka berdua pun kadang melepas keluh kesah melalui telpon. Seno selalu tersenyum dalam hati ketika harus tidur malam hanya untuk sekedar dapat bertelpon-telponan. Waktu itu untuk dapat nelpon murah harus agak malam.
Lama kelamaan, timbulah benih rasa sayang dalam hati Seno,dari awalnya teman menjadi rasa ingin memiliki Ning. Rasa itu semakin lama semakin tumbuh tanpa bisa diredam oleh Seno. Rasa yang bersemi seiring makin dekatnya hubungan diantara mereka. Meskipun mereka belum pernah bertemu sekalipun, namun Seno merasa nyaman dengan hubungan tersebut, maka dengan segala keyakinan diri yang dimiliki, Seno pun mengutarakan perasaanya kepada Ning. Perasaan berteman yang telah berubah menjadi sayang dan ingin memiliki Ning seutuhnya.
Ning pu kaget dengan apa yang dia dengar, Seno yang dianggap sebagai teman nya teryata memiliki perasaan melebihi seorang teman. Seno yang selama ini Ning panggil dengan sebutan kakak,justru teryata menyayangi Ning melebihi seorang kakak.
Seminggu berlalu setelah Seno menggungkapkan perasaan kepada Ning. Harap-harap cemas namun dengan keyakinan yang tinggi Seno pun menunggu telpon dari Ning,menunggu jawaban atas pertanyaan hati Seno terhadap Ning. Bunyi telpon Seno pun berbunyi,Ning memanggil. Diangkat telpon itu dan setelah basa-basi sebentar Ning pun memberikan jawaban atas pertanyaan Seno satu minggu yang lalu. Deg...tidak seperti yang diduga, Ning menjawab lain dari apa yang Seno perkirakan. “ kita lebih baik seperti sekarang ini,sebagai kakak-adik, gak lebih dari itu “ begitu kurang lebih jawaban dari Ning.
Sesaat Seno terdiam mendengar hal tersebut. Pikiran berkecamuk dalam diri Seno,ingin menggugat atas jawaban dari Ning. Ada begitu banyak pembelaan yang ingin Seno ungkapkan atas jawaban Ning tersebut. Seno berontak atas hal tersebut. Rasa kecewa yang mendalam dirasakan Seno merasuki relung-relung tulang dadanya,serasa ada puluhan ton beban membebani dada Seno. Sesak. Setelah beberapa lama Seno terdiam akhirnya Seno pun sadar bahwa apa yang dirasakanya adalah salah dan tidak layak dilakukan seorang teman. Teman ya teman gak lebih dari itu. Seno pun menerima jawaban Ning meskipun rasa kecewa yang dalam dirasakan.
Sejak saat itu hubungan mereka pun menjadi renggang, tidak seperti yang dulu sebelum Ning menolak rasa sayang dari Seno. Pelan-pelan Seno pun menjauh,dengan alasan kesibukan dalam bekerja Seno mencoba menghindari setiap pesan serta telpon dari Ning. Kemesraan sebagai seorang teman tidak nampak lagi,justru aroma permusuhan ditiupkan Seno dalam setiap pesan yang dia balas kepada Ning. Seno berkilah telah memiliki kekasih saat ini,sehingga tidak ingin membuat pacarnya merasa cemburu melihat hubungan nya dengan Ning.
Ning pun menyadari perubahan sikap dari Seno, hingga akhirnya Ning pun memutuskan untuk mengakhiri hubungan persahabatan mereka. Tidak ada lagi cerita keluh kesah yang sendu ataw membahagiakan diantara mereka. Hingga akhirnya mereka benar-benar kehilangan komunikasi sama sekali. Persahabatan yang begitu indah harus pupus oleh perasaan egois dari Seno. Persahabatan antara dua insan yang saling berjauhan akhirnya hancur. Seno pun akhirnya menyadari bahwa antara cinta dan persahabatan itu mempunyai sisi yang berbeda, meskipun awal dari mencinta itu adalah persahabatan. Ibarat sebuah mata uang yang memiliki sisi yang berbeda namun tetap satu. Seno pun menyibukan diri dengan pekerjaan nya dan Ning pun melanjutkan studi pendidikan nya. Hingga akhirnya Ning pun dipersunting oleh laki-laki idaman nya, seperti yang tertulis dalam pesan singkat nya.
Sejak saat itu Seno pun belajar untuk lebih mengerti perasaan wanita. Terus belajar untuk mengetahui rahasia-rahasia mereka. Bukan karena sakit hati atas penolakan yang dilakukan Ning,namun sebagai bentuk maaf serta penyesalan yang sangat mendalam atas ke-egoisan yang dulu pernah dilakukan. Ke-egoisan sesaat yang menghancurkan persahabatan yang telah dibangun sekian lama. Persahabatan yang seharusnya tetap ada, seandainya Seno mau berpikir lebih dewasa.
Berbagai literatur buku serta website coba untuk Seno baca dan pelajari. Bagaimana mengenal sosok perempuan lebih jauh ke dalam hati melalui sifat dan perbuatan lahiriah yang terlihat dari keseharian serta tingkah laku yang dilakukan. Seno pun memperbaiki diri serta berteman dengan banyak perempuan untuk lebih dekat dan mengenal sifat serta karakter mereka lebih jauh....
Bersambung : “ Seno dan perhatian nya kepada wanita “.
© Slamet Suprihono ; 27 February 2011 ; 23.00 ; “ Dalam kesepian yang sangat nyata “.
-------------------------------------------------------------------------------------
PS : Cerita ini hanyalah fiktip belaka, kesamaan nama tokoh,karakter,setting tempat dan waktu hanyalah kebetulan saja yang tidak disengaja.
Ning, sebut saja begitu nama dari gadis pemberi pesan tersebut. Gadis yang dulu sempat dekat dengan Seno. Gadis yang dulu selalu hadir disetiap relung-relung kesunyian Seno. Ya, Ning datang disaat Seno membutuhkan teman, disaat Seno terpuruk, disaat Seno menjalani masa-masa sulit awal Seno bekerja. Awalnya hubungan Seno dan Ning berawal dari media sosial yang sedang populer saat itu. Mereka berkenalan dan saling berbagi cerita melalui media online di internet. Ning yang saat itu sedang menempuh pendidikan tinggi di salah satu kota di pulau jawa senantiasa online di internet untuk menyelesaikan tugas-tugas yang diberikan oleh kampus tempat dimana dia kuliah. Dari yang sekedar basa-basi obrolan ringan tentang aktifitas sehari-hari berlanjut kepada masalah pribadi yang dihadapi Ning. Masalah pribadi dikampus bahkan kadang masalah pribadi di keluarganya. Seno pun menanggapi setiap cerita serta keluh kesah Ning dengan baik. Seno mendengarkan dengan baik cerita dari Ning.
Seiring berjalan nya waktu,hubungan pun berlanjut. Seno dan Ning pun saling bertukar nomer handphone. Hubungan diantara mereka pun makin dekat bukan hanya sekedar chatting melalui internet, namun juga sesekali mereka saling bertegur sapa melalui pesan singkat dalam sms. Dari sekedar mengingatkan makan sampai menggingatkan untuk tidur. Mereka terus berhubungan meskipun terpisah jauh jaraknya serta belum pernah bertemu sekalipun. Hubungan pun semakin intens dari sekedar chatting dan sms-an, mereka berdua pun kadang melepas keluh kesah melalui telpon. Seno selalu tersenyum dalam hati ketika harus tidur malam hanya untuk sekedar dapat bertelpon-telponan. Waktu itu untuk dapat nelpon murah harus agak malam.
Lama kelamaan, timbulah benih rasa sayang dalam hati Seno,dari awalnya teman menjadi rasa ingin memiliki Ning. Rasa itu semakin lama semakin tumbuh tanpa bisa diredam oleh Seno. Rasa yang bersemi seiring makin dekatnya hubungan diantara mereka. Meskipun mereka belum pernah bertemu sekalipun, namun Seno merasa nyaman dengan hubungan tersebut, maka dengan segala keyakinan diri yang dimiliki, Seno pun mengutarakan perasaanya kepada Ning. Perasaan berteman yang telah berubah menjadi sayang dan ingin memiliki Ning seutuhnya.
Ning pu kaget dengan apa yang dia dengar, Seno yang dianggap sebagai teman nya teryata memiliki perasaan melebihi seorang teman. Seno yang selama ini Ning panggil dengan sebutan kakak,justru teryata menyayangi Ning melebihi seorang kakak.
Seminggu berlalu setelah Seno menggungkapkan perasaan kepada Ning. Harap-harap cemas namun dengan keyakinan yang tinggi Seno pun menunggu telpon dari Ning,menunggu jawaban atas pertanyaan hati Seno terhadap Ning. Bunyi telpon Seno pun berbunyi,Ning memanggil. Diangkat telpon itu dan setelah basa-basi sebentar Ning pun memberikan jawaban atas pertanyaan Seno satu minggu yang lalu. Deg...tidak seperti yang diduga, Ning menjawab lain dari apa yang Seno perkirakan. “ kita lebih baik seperti sekarang ini,sebagai kakak-adik, gak lebih dari itu “ begitu kurang lebih jawaban dari Ning.
Sesaat Seno terdiam mendengar hal tersebut. Pikiran berkecamuk dalam diri Seno,ingin menggugat atas jawaban dari Ning. Ada begitu banyak pembelaan yang ingin Seno ungkapkan atas jawaban Ning tersebut. Seno berontak atas hal tersebut. Rasa kecewa yang mendalam dirasakan Seno merasuki relung-relung tulang dadanya,serasa ada puluhan ton beban membebani dada Seno. Sesak. Setelah beberapa lama Seno terdiam akhirnya Seno pun sadar bahwa apa yang dirasakanya adalah salah dan tidak layak dilakukan seorang teman. Teman ya teman gak lebih dari itu. Seno pun menerima jawaban Ning meskipun rasa kecewa yang dalam dirasakan.
Sejak saat itu hubungan mereka pun menjadi renggang, tidak seperti yang dulu sebelum Ning menolak rasa sayang dari Seno. Pelan-pelan Seno pun menjauh,dengan alasan kesibukan dalam bekerja Seno mencoba menghindari setiap pesan serta telpon dari Ning. Kemesraan sebagai seorang teman tidak nampak lagi,justru aroma permusuhan ditiupkan Seno dalam setiap pesan yang dia balas kepada Ning. Seno berkilah telah memiliki kekasih saat ini,sehingga tidak ingin membuat pacarnya merasa cemburu melihat hubungan nya dengan Ning.
Ning pun menyadari perubahan sikap dari Seno, hingga akhirnya Ning pun memutuskan untuk mengakhiri hubungan persahabatan mereka. Tidak ada lagi cerita keluh kesah yang sendu ataw membahagiakan diantara mereka. Hingga akhirnya mereka benar-benar kehilangan komunikasi sama sekali. Persahabatan yang begitu indah harus pupus oleh perasaan egois dari Seno. Persahabatan antara dua insan yang saling berjauhan akhirnya hancur. Seno pun akhirnya menyadari bahwa antara cinta dan persahabatan itu mempunyai sisi yang berbeda, meskipun awal dari mencinta itu adalah persahabatan. Ibarat sebuah mata uang yang memiliki sisi yang berbeda namun tetap satu. Seno pun menyibukan diri dengan pekerjaan nya dan Ning pun melanjutkan studi pendidikan nya. Hingga akhirnya Ning pun dipersunting oleh laki-laki idaman nya, seperti yang tertulis dalam pesan singkat nya.
Sejak saat itu Seno pun belajar untuk lebih mengerti perasaan wanita. Terus belajar untuk mengetahui rahasia-rahasia mereka. Bukan karena sakit hati atas penolakan yang dilakukan Ning,namun sebagai bentuk maaf serta penyesalan yang sangat mendalam atas ke-egoisan yang dulu pernah dilakukan. Ke-egoisan sesaat yang menghancurkan persahabatan yang telah dibangun sekian lama. Persahabatan yang seharusnya tetap ada, seandainya Seno mau berpikir lebih dewasa.
Berbagai literatur buku serta website coba untuk Seno baca dan pelajari. Bagaimana mengenal sosok perempuan lebih jauh ke dalam hati melalui sifat dan perbuatan lahiriah yang terlihat dari keseharian serta tingkah laku yang dilakukan. Seno pun memperbaiki diri serta berteman dengan banyak perempuan untuk lebih dekat dan mengenal sifat serta karakter mereka lebih jauh....
Bersambung : “ Seno dan perhatian nya kepada wanita “.
© Slamet Suprihono ; 27 February 2011 ; 23.00 ; “ Dalam kesepian yang sangat nyata “.
-------------------------------------------------------------------------------------
PS : Cerita ini hanyalah fiktip belaka, kesamaan nama tokoh,karakter,setting tempat dan waktu hanyalah kebetulan saja yang tidak disengaja.
0 komentar:
Poskan Komentar